Sebetulnya baik Rijkaard maupun Guardiola sama2 dianugrahi squad yang ampuh. Tinggal bagaimana mereka serta pelatih2 yang lain memaksimalkan pemain2nya dengan strategi yang tepat. Menurut gw, baik Rijkaard maupun Guardiola, sama2 melatih dengan gaya kepelatihannya masing2. Tidak bisa dikatakan bahwa Guardiola men-copy atau menyempurnakan taktik Rijkaard.
Untuk itu kita harus kembali melihat siapakah "guru" dari kedua pelatih muda tersebut, yang telah menanamkan benih2 gaya kepelatihan mereka

.
Oke, dimulai dari Rijkaard.
Mungkin telah dikenal disebagian besar penikmat sepakbola yang namanya
"The Dream Team Milan" era akhir 1980-an dan awal 1990-an. Saat itu, di tangan pelatih
Arrigo Sacchi, Milan menjadi kekuatan menakutkan baik di kompetisi lokal, eropa, bahkan level dunia. The Dream Team Milan meraih titel Champions Cup (skrg Champions League

) tahun 1988/1989.
Squad The Dream Team Milan saat itu antara lain: Giovanni Galli (Gk), Mauro Tassotti (DR), Paolo Maldini (DL), Alessandro Costacurta (DC), Franco Baresi (DC), Angelo Colombo (MR), Roberto Donadoni (ML), Frank Rijkaard (DMC), Carlo Ancelotti (CM), Ruud Gullit (SC), Marco Van Basten (SC).
Yup, Rijkaard ada di bagian tim tsb

. Dan jelas, Rijkaard mampu menyerap semua apa yang diajarkan oleh sang "guru"-nya, untuk kemudian diterapkan dalam taktik dan strategi-nya. Meskipun Rijkaard sendiri berposisi sebagai gelandang bertahan di squad Dream Team tersebut, namun tidak berarti squad Rijkaard lebih banyak bertahan, justru Rijkaard menerapkan filosofi sepakbola menyerang dengan gaya khas The Dream Team Milan saat itu

.
Sekarang beralih ke Guardiola.
Saat era The Dream Milan merajalela, sesungguhnya di awal tahun 1990-an tersebut juga ada sebuah tim lain yang bisa dikatakan
"The Dream Team Barcelona" 
. Pelatih yang menciptakan tim ini adalah
Johan Cruyff 
. Dibawah tangan Cruyff, Barcelona meraih 4 titel liga Spanyol berturut2 dari 1991 sampai 1994. Dan meraih titel Champions League-nya tahun 1992.
Squad The Dream Team Barcelona saat itu antara lain: Andoni Zubizarreta (Gk), Albert Ferrer (DR), Ion Andoni Goikoetxea/Juan Carlos Rodriguez (DL), Ronald Koeman (DC), Fernando Munoz (DC), Jose Mari Bakero/Txiki Begiristain (MR), Michael Laudrup (ML), Josep Guardiola (DMC), Eusebio Sacristan (CM), Gheorghe Hagi/Julio Salinas (SC), Hristo Stoichkov/Romario (SC).
Dan, bisa dilihat kembali, Pep Guardiola adalah salah satu pemain yang ada dalam sejarah The Dream Team Barcelona tersebut. Sama hal-nya dengan Rijkaard, maka Pep juga berhasil meng-ejawantah-kan apa yang dia dapat dari tangan dingin Cruyff, untuk diterapkan di era Messi dkk saat ini

.
Akhirnya, menurut pendapat gw, Pep Guardiola tidak-lah meniru atau meneruskan gaya kepelatihan Rijkaard, tetapi kedua pelatih kebetulan memiliki latar belakang yang hampir sama yaitu dilatih oleh pelatih2 yang mengusung sepakbola menyerang ala The Dream Team. Satu kesamaan lagi adalah, mereka diwariskan pemain2 yang memang sudah berkarakter dan bermain lama sbg satu tim. Jika Rijkaard "hanya" menambah komponen Ronaldinho dan Deco dalam tim-nya. Maka Guardiola, melepas komponen tersebut dan memaksimalkan Xavi, Iniesta, serta Henry dalam squadnya. Tentu saja, Messi adalah komponen kunci yang tidak boleh dilepas oleh keduanya

.
Ohya, coba diperhatikan, ada 1 kesamaan lainnya antara Rijkaard dan Pep Guardiola, yaitu sama2 merupakan pemain Defensive Midfielder Center (DMC) (Ancelotti yang berposisi Central Midfielder juga boleh di-include

). Mereka semua boleh dibilang adalah pelatih2 muda yang sukses. Kesemuanya adalah peraih titel2 liga lokal dan tentu saja, Champions League, yang merupakan liga paling bergengsi. Apakah ada hubungan antara posisi gelandang tengah (bertahan) saat mereka aktif bermain, dengan cara kepelatihan saat mereka aktif melatih?
Tidak bisa dijawab sepenuhnya "ya".

Sample-nya Roy Keane kali xixixixi...

, sorry Wet
